Antara Cinta Sejati dan Cinta Sebatas Jalan di Persimpangan

Selasa, 29 Maret 2011


Saya mendengar wawancara di televisi dengan istri salah seorang selebriti yang sementara dalam proses perceraian dengan suaminya. Dan gosip merebak karena suaminya diduga berselingkuh dengan wanita lain yang juga seorang selebritis. Tetapi yang membuat saya heran adalah ketika ia (istri selebriti) tersebut diminta menuturkan tentang perasaannya tentang proses perceraiannya dengan suaminya serta tanggapan atas gosip yang menderanya. Ia pun nampak menjawab dengan santai setiap pertanyaan yang diajukan oleh wartawan. Ia katakan bahwa proses perceraian itu dikarenakan hubungan mereka yang sudah tidak ada kecocokan lagi. Tipikal alasan perceraian pada umumnya. Kemudian ia menambahkan jawaban ketika dimintai tanggapan tentang gossip perselingkuhan suaminya, bahwa baginya sekarang yang terpenting adalah anak, tidak ada yang lainnya.

 
Lalu logika saya mulai mengusik pikiran saya dan terbayanglah berbagai pertanyaan dibenak saya..

Bagaimana sebenarnya esensi pernikahan itu??
Kalau anak lebih penting dan segala-galanya daripada pernikahan yang telah dibina, kenapa harus susah payah menikah kalau pada akhirnya bercerai?? kenapa tidak pergi ke bank sperma saja??...apakah menikah di usia pertengahan umur itu suatu keharusan untuk mengejar waktu yang berharga karena hidup manusia ada batasnya?? Dan jika perceraian terjadi, lalu merencanakan untuk menikah lagi karena rumah tangga tidak berhasil dibina, apakah karena dorongan seksualitas? hasrat untuk ingin dicintai dan tidak ingin sendiri? Atau suatu keharusan karena tanggung jawab terhadap anak-anak dan masalah ekonomi? dan bla bla bla..

Jawabannya, nasib ada ditangan kita. Tuhan telah memberikan 3 hal dan hak istimewa dan khusus buat manusia yaitu Akal (logika), Nurani dan Pilihan hidup.
   

0 komentar: